HISTORY OF GREATER LIWUTUNG (TOLOMBUKAN, TOWUNTU, LIWUTUNG) MAULIT, PONIKI

Richmond Woran


Tentang

Ini merupakan penelitian sederhana untuk mengetahui asal usul Terbentuknya wilayah yang kita kenal sekarang, “Pasan”. Dalam penelitian ini Saya menggunakan 3 metode penelitian, yaitu:

1. Metode Epigrafi: Yaitu Metode membaca Nisan pada Kuburan tua. Saya meneliti kuburan yang ber umur kisaran (1830-1995). Dari nisan tersebut dapat diketahui bahwa peradaban di Liwutung sudah ada dan terbentuk mulai dari abad 19.
Kubur dari Lie Jin Moi
2. Metode Lisan: Merupakan metode berbasis tanya-jawab dengan para Tetua ataupun Tokoh desa. Tokoh yang menjadi Narasumber:
Bpk. Arnolus Gahung (Lanjut Usia) Bpk. Djolly Uguy (Kepala jaga II desa Tolombukan Satu) Ibu. Yolly Pungis (lanjut Usia) Ibu. Herni Runtuwarouw (Lanjut Usia) Ibu. Yuliana Lumbu (Lanjut Uaia) Bpk. Fritje Ruata Bpk. De Lumbu (Lanjut Usia) Bpk. Nus Uguy S.H Saya juga Mengambil beberapa data dari Sumber “Tertulis”. “Pemerintah Desa” dan dari “KKN dan KKT Angkatan 136 dan Angkatan 118 UNSRAT”

Etimologi

Menurut data dari Pemerintah Desa, dan data sejarah Lisan dari Tetua kampung Bpk. Arnolus Gahung.
Asal kata “Tolombukan” terdiri dari dua kata dalam bahasa Pasan yaitu “Tou” dan “Sumbukan”. “Tou” artinya “Orang” dan “Sumbukan” artinya “Sebelah”. Menurut Tradisi Lisan, Pada zaman dulu kurang lebih 200 Tahun yang lalu perbatasan antara desa Liwutung dan Tolombukan, terdapat sebuah Sungai yang memisahkan. Maka dari itu “Tolombukan” artinya “Orang di sebelah sungai”
Tugu Tolombukan Thn 2000
Sementara Towuntu terdiri dari dua kata dalam bahasa Pasan “Tou” dan “Wuntu” Tou artinya “Orang” dan Wuntu artinya “Limpah” atau “Ma Wuntu-wuntu” artinya dalam bahasa sehari-hari: “Ta lebeh-lebeh” (Berlimpah-limpah). Dari ketiga wilayah desa tersebut daerah di bagian Timur mendapatkan hasil pertanian yang banyak atau melimpah. Untuk itulah nama wilayah tersebut Towuntu artinya “Orang yang Berlimpah”
Tugu Towuntu
Menurut data dari “KKT angkatan 136 UNSRAT Posko Liwutung” Liwutung berasal dari kata “Liuton” yang artinya “Lembah”
Gereja Pniel Liwutung
Sedangkan “Maulit” berasal dari 2 kata yaitu “Ma” dan “Ulit” atau “Ulit-ulit”. “Ulit” artinya “Benar”. Artinya dalam bahasa sehari-hari: “Ba Betul-betul” (Benar). Sekitar tahun 1943-1945 waktu kekuasaan kolonial Jepang, banyak orang meninggal kan kampung halaman mereka yang kebanyakan berasal dari daerah Pegunungan (Tontemboan). Mereka datang dan menetap serta berkebun di daerah sebelah selatan Liwutung, yang sekarang dikenal sebagai desa Maulit.
BPU Maulit
Begitu juga dengan “Poniki”. Sekita Tahun 1920, masyarakat kuyanga berdatangan ke daerah sebelah selatan Liwutung, yang sekarang di sebut desa Poniki. Daerah tersebut terdapat banyak sekali kelelawar atau “Paniki” untuk itulah daerah tersebut di sebut “Poniki” karena terdapat banyak sekali “Kelelawar” (Paniki).
Wisata Air Terjun Poniki
Kelima wilayah desa tersebut sekarang menjadi 1 Wilayah Kecamatan Pasan. Pasan artinya “Pikul” dalam bahasa Pasan. Wilayah sub suku Pasan meliputi: Pasan Ratahan (Tousuraya), Pasan Ponosakan (Belang), dan Pasan Asli yaitu “Tou Liwutung” (Orang Liwutung). Perbedaan ketiga wilayah ini bisa dilihat dari aksen bicara (logat).
Peta Wilayah Kec. Pasan

Administrasi

Desa Liwutung Terpecah menjadi 11 Desa:
  • Liwutung
  • Liwutung satu
  • Liwutung Dua
  • Towuntu
  • Towuntu Barat
  • Towuntu Timur
  • Tolombukan
  • Tolombukan Satu
  • Tolombukan Barat
  • Poniki
  • Maulit
Dan terdiri dari beberapa jaga:
Pemekaran desa Liwutung bermula pada Tahun 1979 yang membuahkan hasil desa Tolombukan. Pada tahun 2006 desa Tolombukan dimekarkan lagi menjadi desa Tolombukan Satu. Kemudian desa Tolombukan dimekarkan lagi dan membuahkan hasil desa Tolombukan Barat pada tahun 2010.

Dari desa Tolombukan memekarkan lagi desa Poniki dan Maulit. Desa Liwutung memekarkan desa Towuntu Barat, dan desa Towuntu memekarkan desa Towuntu Timur.

Analisis Penduduk (1830-1975)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur keluarga di Liwutung Raya terbentuk melalui tiga gelombang generasi, yaitu:
  • Generasi Pendiri (1830–1880)
  • Generasi Kolonial (1880–1945)
  • Generasi Modern Awal (1945–1975)
Sumber utama analisis adalah lebih dari 60+ data kuburan yang telah dicatat. Dari analisis seluruh nisan, ditemukan pola tahun lahir sebagai berikut:

Periode 1830–1880

kelahiran paling tua: sekitar 1838–1845 (generasi pendiri) contoh tokoh:
  • Johanis Jowangkay -Hukum Tua Desa Tolombukan- (1824-1870)
  • Lolienwun (1830-1830)
  • Lolienhiong (1832-1833)
  • Kubur Besar Tanpa Nama (1835-1904)
  • Jakop Ratulangi (1840-an)
  • Kubur Tanpa Nama II
  • J.l.n.s Komalig (1849-1911)
  • Posuma (1848-1906)
  • Bertha lembong (1853-1933)
  • W. Rambi (1854-1937)
  • Hariantjie Mawo (1855-1956)
  • W. Uguij (1856-1908)
  • Karel Lumbu (1857-1947)
  • Welmentje Montoe (1857-1917)
  • E. Uguij (1859-1919)
  • Eduard Owu (1860-1945)
  • Cornelius Tumbeuibela (1860-1934)
  • D. Mandeij (1862-1916)
  • Joost Ginsu (1862-1915)
  • Ruland Ginsu (1868-1931)
  • Betrand Lumbu (1868-1932)
  • Abednedju Gahung (1869-1909)
  • K Rondo (1870-1936)
  • Minna Tammod (1872-1942)
  • P Kahuntuan (1875-1957)
  • Anatje Engka (1876-1967)
  • Pondaag Kadj. Ratulangi (1877-1927)
  • Elirs Kario (1877-1945)
  • Louis Kojo (1878-1940)
  • A. Kawinjan (1878-1903)
  • W. Kawinjan (1878-1934)
  • Lewan Manaroinsong (1879-1964)
  • L. Rambi (1880-1967)

Periode 1880–1920

Masa kolonial, terjadi peningkatan populasi. Banyak nama lahir antara 1890–1915. Contoh tokoh:

  • Eloat Pondaag (1881-1934)
  • Estevanus Kawengian (1882-1977)
  • Niklaas Monulandi (1884-1936)
  • Roselina Kawengian-Supit (1885-1930)
  • Luis Ampou (1886-1920)
  • Juditha A Nenduw (1888-1924)
  • Paulina Karolina Posuma-Uguy (1889-1986)
  • Albert J. Nenduw (1893- 1915)
  • Herman F Sahelangi (1894-1960)
  • Dorsila Pondaag (1894-1976)
  • Petrus Gahung (1894-1950)
  • Antoneta Wagania (1894-1972)
  • Orger Harmen Tumewu (1894-1977)
  • Josina Jowangkay (1895-1954)
  • Joeliana Onsoe-Ponowoe (1895-1930)
  • Tresia Wagania (1895-1952)
  • Harun Ugui (1896-1974)
  • Johan Woley (1896-1961)
  • Agustinus Komalig (1899-1959)
  • Mathilda Tumbelaka (1899-1975)
  • Marthen Luther Rotulung (1900)
  • Ruth Alouw (1900-1927)
  • Johan Kawengian (1900-1938)
  • Wolter (1900-1967)
  • Sartje Tampomuri (1900-1941)
  • Eliezer Kario (1902-1946)
  • Benedictus Alouw (1902-1927)
  • J P Sante (1902-1972)
  • Kelara Pondaag-Naray (1902-1976)
  • E E Kojo (1902-1957)
  • Artje Tumangkeng—Londah (1903-1975)
  • Petrus Maki (1904-1960)
  • Fedrik Ompi (1905-1975)
  • Maria Paat-Mamahit (1907-1982)
  • Benjamin Rotulung (1908-1939)
  • Jusop Tolandang (1908-1936)
  • Ribka Lumingkewas (1909-1962)
  • Helena Lengkong (1910-1973)
  • kubur helena lengkong
  • Ema Wawointana (1910)
  • Paul Komalig (1911-1979)
  • Hendrik Lumbu (1911-1989)
  • Egbert Ampou (1913-1975)
  • Maria Kindangen-Tolandang (1914-1938)
  • Benedictus Kaat (1915-1996)
  • Zet Markus Gerzon Tampomuri (1915-1935)
  • Elisabeth Tolandang (1915-1958)
  • Josep Komalig (1916-1975)
  • Yan Ampou (1917-1932)
  • Getroida Makalow (1918-1984)
  • Yuliana Pondaag (1918-2005
  • Alexander Arikalang (1918-1980)
  • Jahja Arikalang (1919-1972)
  • W. A Uguy (1920-1938)

Periode 1920–1950

Generasi ini adalah anak modern awal. Contoh tokoh:
  • Mariet Ampou (1920)
  • Dintje Wawolumaja (1921-2014)
  • Josina Uguy (1922-1976)
  • Justus Kaawoan (1923-2013)
  • Frans Poyo (1923)
  • H. Uway-Londok (1924-1978)
  • Naomi Poluan (1926-1989)
  • A Potangkuman (1928-1988)
  • Paulina Wawolumaya (1929-2017)
  • Frans Junius Pesih (1929-1935)
  • Yosep Woran (1939-2001)
  • Hendrik Woran (1943-1967)

Hal mengejutkan dari nisan adalah tingginya angka kematian anak. Contoh:

  • Lie Jin Moi (†1933, usia 2 bulan)
  • Betsi Rotulung (†1940, usia 3 tahun)
  • Sem Kario (†1939, usia ±1 tahun)
  • Nortje Lumbu (†1977, usia 10 bulan)

Ini menandakan sanitasi buruk pada periode kolonial awal. penyakit menular, belum adanya imunisasi, kelaparan dan wabah musim paceklik.

Tokoh tertua sejauh yang dapat saya buktikan ialah “Lolienhiong” ia lahir 1831 dan meninggal 1930. Ia di prediksi berasal dari Tiongkok. Saya dan teman-teman mencoba untuk melacak dan menemukan makam para Tetua (Dotu) yang membuka perkampungan, seperti Maarey Lumbu, Isak Rokot, serta tokoh-tokoh lainya yang dipercaya membuka perkampungan ini. Tapi kami tidak bisa menemukan makam tersebut. Karena beberapa faktor berikut:

  • Kurangnya perwatan terhadap makam leluhur (jika makam nya diberi tanda). Mungkin termakan lumut atau tertutup oleh Hutan.
  • Kemungkinan tokoh-tokoh tersebut di makam kan di lokasi berbeda dengan lokasi pemakaman umum liwutung sekarang.
  • Nama para tokoh-tokoh tersebut mungkin tidak ditulis sebagai conth: “Maarey” atau “Isaak” pada nisan kubur mereka, sehingga tidak dikenali.
  • Mereka di makamkan di kuburan tanpa nisan. Makam tanpa nama, tapi tahun nya tertera.

Tokoh Dengan Umur Terlama dan Terpendek

Tokoh Terlama (Longevity 90+ years)

  • Lolienhiong – 111 Tahun
  • Hariantje Mawo – 101 Tahun
  • Lolienwun – 100 Tahun
  • Estevanus Kawengian – 95 tahun
  • Jakop Ratulangi – 92 tahun
  • Karel Lumbu – 90 tahun

Tokoh Termuda

  • Lie Jin Moi – 2 bulan
  • Betsi Rotulung – 3 tahun
  • Sem Kario – 1 tahun
  • Nortje Lumbu – 10 bulan

Analisis Gelombang Generasi (1830–1998)

Generasi 1 — Pioneer (1830–1880)

marga pendiri datang, hidup lebih lama dan sistem nilai tradisional masih kuat.

Generasi 2 — Colonial Social Order (1880–1945)

muncul jabatan kolonial, kontak dengan gereja, kematian anak tinggi.

Generasi 3 — Post-War & Early Modern (1945–1975)

perbaikan kesehatan, pendidikan meningkat, umur rata-rata naik.

Generasi 4 — Late Modern (1975–1998)

generasi ini mulai tersebar keluar kampung, mobilitas tinggi serta nisan lebih modern.

Identitas Keagamaan (Christian Influence)

Gereja menjadi pusat kehidupan sosial sejak akhir abad ke-19. Dampaknya: Nama baptisan Kristen mulai muncul (Paulus, Harun, Estevanus, Helena). kemudian Penanggalan kuburan menggunakan Sistem gereja. Marga distandarkan untuk memudahkan administrasi gerejawi. Music & paduan suara menjadi bagian identitas Liwutung. Gereja memisahkan Liwutung Raya dalam pos pelayanan:
  • Liwutung
  • Towuntu
  • Tolombukan

Para Pendeta GMIM yang Melayani di Seluruh Wilayah Pasan

Badan Pekerja Majelis Wilayah Pasan Tahun 2025


Sejarah dan Silsilah Kuno (1800an)

Ada satu sumber mengatakan bahwa ada seseorang yang pernah hidup di zaman pendirian kampung, Ialah Dotu Tolombukan: Maarey Lumbu merupakan Ayah dari Betrand Lumbu, Kakek Buyutku.

Maarey Lumbu dikenal karena perjalanannya dengan menunggangi Kuda, sambil mengenakan Topi khas Koboy dan berjalan bersusah payah sampai di wilayah Gunung soputan (utara Tolombukan) untuk menentukan wilayah mereka.

dan sampai sekarang wilayah tersebut diwariskan hingga menjadi wilayah Hutan Kepolisian desa Tolombukan Satu. Maarey lumbu merupakan 1 dari 3 tokoh Dotu di Liwutung Raya 2 lainnya yaitu: Kakek Pondaag (Liwutung), dan Isak Rokot ( Towuntu ).

Ada Juga Makna atau Arti dari marga Lumbu. Lumbu berasal dari kata “Lumbu-lumbuan” yang artinya “Mata Aer”. Mata air ini berasal dari daerah “Ranombolay” yang terletak di Utara Tolombukan. Marga Lumbu dikatakan pertama kali diberikan kepada seorang tokoh, yaitu “Dotu Maarey Lumbu”


Migrasi Penduduk China

Hasil penelitian saya membuktikan bahwa orang-orang tiongkok pernah datang dan menjadi bagian orang liwutung. Mayoritas migran Tionghoa ke Minahasa khususnya Liwutung, berasal dari Provinsi Guangdong (廣東), terutama dari:

  • Xinhui (新會)
  • Canton (廣州府)
  • Taishan / Toishan (台山)
  • Kaiping (開平)
  • Enping (恩平)

Wilayah-wilayah ini dikenal sebagai “san yi / si yi diaspora” — daerah asal perantau yang banyak ke Asia Tenggara. Migrasi dari Guangdong ke Minahasa terjadi karena faktor ekonomi dan perdagangan. Pedagang dan pekerja Tionghoa tertarik oleh jalur maritim strategis di Minahasa (Manado) dan kebutuhan tenaga kerja yang dibawa oleh penjajah Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda).

Mereka mencari prospek ekonomi yang lebih baik dan menemukan lingkungan sosial yang toleran di Minahasa, yang memfasilitasi pembentukan komunitas dan akulturasi budaya.

Bukti Arkeologis: Kuburan Tionghoa di Liwutung Raya

Data kuburan yang ditemukan di pekuburan Liwutung Raya menunjukkan beberapa tokoh kunci:

  • Zhou Liang (周良老翁之墓) Asal: Guangdong, Distrik Xinhui, Kampung Renshengli (廣東新會仁勝里) Wafat: Tahun Republik China ke-34 (1945), Nisan: klasik Tionghoa, bentuk tapal kuda, Menunjukkan status sosial cukup tinggi, Termasuk generasi pertama migran.
  • kubur zhao liang
  • Lae Kan Way (賴根偉) Marga: Lae (賴) Asal: kemungkinan Guangdong utara / Hakka region Wafat: 1930-an Model nisan Tionghoa selatan Bukti kehadiran komunitas Hakka/Cantonese
  • kubur lae kan way
  • Tjong Kok Tiong (張國忠) Marga: Tjong (張 / Zhang) Nama generasi: Kok (國) Nama pribadi: Tiong (忠) Perantau Cantonese, Kemungkinan pedagang kecil atau pengrajin
  • kubur tjong kok tiong
  • Lie Jin Moi (黎金妹 / 金梅) Marga: Lie (黎), berasal dari Canton–Hakka belt Wafat: 1933 pada usia 2 bulan Salah satu bukti kematian bayi pada keluarga migran Nisan sederhana tetapi jelas beraksara Mandarin
  • kubur lie jin moi

    Dan Tokoh Tionghoa lainnya

    Berbeda dengan kota-kota besar, komunitas Tionghoa di Liwutung Raya menyatu total dengan masyarakat lokal. Buktinya bisa dilihat dari Lokasi kuburan yang tidak terpisah. Mereka dikuburkan di tengah pekuburan kampung, bukan di area khusus Cina. Banyak perantau menikah dengan perempuan lokal, sehingga keturunan memakai marga lokal, atau nama Minahasa + unsur Tionghoa. Ini membuat Ekonomi desa sangat terbantu berkat kedatangan para migran dari guangdong. Beberapa nisan Tionghoa memiliki detail yang lebih lengkap daripada nisan Minahasa, sehingga menjadi sumber sejarah yang sangat berharga.


    Sejarah Pemerintahan dan Kepemimpinan di Liwutung Raya

    Pada zaman Hindia Belanda, jabatan Hukum Tua (Hoofd van het Dorp) diangkat oleh pemerintah kolonial melalui distrik. Hukum Tua berfungsi sebagai: kepala administratif desa, penghubung rakyat dengan pemerintah kolonial, penanggung jawab pajak dan ketertiban, tokoh adat dalam berbagai upacara. Masa kolonial sangat menekankan pendidikan, ketertiban, dan administrasi.

    Tugu Liwutung Induk mencatat daftar kepala desa sejak berdirinya desa Liwutung:

    • M. Supit
    • Albert Ompi
    • Charles Posumah
    • Joel Mandey
    • Herman Sahelangi
    • Andreas Wagnia
    • Lois Rambi (Pjs)
    • Justinus Komalig
    • Johanes Th. Kandou (Pjs)
    • Eduard Alouw (Pjs)
    • Elfianus Kasonso
    • Justinus Komalig (menjabat kembali)
    • Robert Tulandi
    • Dekky B. Lumbu
    • Robert Tulandi (periode kedua)
    • Paulus Ratulangi

    Masa Kepemimpinan Terlama

    Justinus Komalig ± 1955–1986 (≈31 tahun)

    Ini menjadikannya figur pemerintahan paling Stabil dan berpengaruh dalam sejarah Liwutung Raya. Masa Jabatan Panjang Lainnya L. Rambi – (±1944–1959) ≈15 tahun Robert Tulandi – dua periode terpisah Paulus Ratulangi – memimpin setelah era modernisasi

    Masa Jabatan Tersingkat

    A. Wagnia – hanya 1 tahun (1944) Pjs seperti E. Alouw & J. Kandou – jabatan sementara

    Hukum Tua Desa Tolombukan Raya

    • Venti Wahongan
    • Oda Naray
    • Max Ratulangi
    • Djelfi Lumbu

    Banyak sekali tradisi dan kebudayaan Liwutung terpengaruhi oleh pemerintah kolonial Belanda bisa di lihat dari nisan kubur. Contoh: (OUD, GEB, OVERL). “OUD” = “Umur”, “OVERLEDEN” = “Meninggal”, sedangkan “GEBOREN” = “Lahir".

    contoh nisan Belanda di Liwutung

    bersambung...

    Penelitian ini tidak dibiayai oleh siapapun, pemerintah, keluarga, ataupun lembaga sekolah atau Universitas. Penelitian ini bermaksud untuk membuka lapangan riset berkelanjutan. karena penelitian ini masih banyak kekurangan, untuk itu diperlukan penelitian lanjutan.

    Dalam penelitian saya di Kuburan Poniki, saya bersama teman-teman saya: Jonathan Pogaga, Naisila Mangangantung, Krisly Kaat, Juvanka Lumanu, Tiara Owu, Joshua Palit.


    Saya harap penelitian ini dapat menjadi rujukan penting bagi penelitina selanjutnya. Penelitian yang saya lampirkan di Web ini hanya bentuk salinan saja dan terbatas. teks penelitian asli nya ber isi bukti potret gambar kuburnya yang tidak di tampilkan di Web. Saya terbuka terhadap kritikan dan masukan. Terima kasih, Soli Deo Gloria.


    I Love Pasan